Thursday, December 18, 2008

Market Mapping dan Strategy PT. Telekomunikasi Selular di Industri Telekomunikasi di Indonesia

Pendahuluan

Latar Belakang

Seiring dengan semakin derasnya arus globalisasi yang di dalamnya di tuntuk adanya pertukaran informasi yang semakin cepat antar daerah dan Negara, membuat peranan telekomunikasi menjadi sangat penting. Karena kodrat dasar manusia, sebagai makhluk social, maka dari itu dunia telekomunikasi akan terus berkembang seiring berkembangnya peradaban manusia di dunia.

Telekomunikasi sebagai wahana bagi pertukaran informasi akan semakin memperhatikan aspek kualitas jasa yang di berikan, karena ketika user puas, tentunya mereka akan loyal. Tingkat CSI (Customer Satisfaction Index), dan Customer Loyalty Index (CLI) sangat menentukan apakah user itu puas dengan kualitas pelayanan yang di berikan oleh masing-masing operator yang bermain di dunia telekomunikasi ini.

Selain itu perkembangan di bidang dunia informasi telekomunikasi saat ini begitu cepat, baik di lihat dari isi maupun teknologi yang di gunakan untuk menyampaikan informasi, mulai dari teknologi GSM, CDMA, dan sekarang telah muncul teknologi 3 G (UMTS), 3.5 G (HSDPA), dan kedepannya ada beberapa operator yang mulai menuju ke teknologi wireless communication dengan mengembangkan Wimax Technology.

Masyarakat dunia informasi komunikasi juga menyadari hal tersebut sehingga dalam hal ini operator berupaya keras untuk menciptakan suatu infrastruktur yang mampu memprovide usernya untuk tetap bisa berhubungan dengan kolega mereka dimana pun, dan kapanpun, sehingga para operator ini sangat membutuhkan jaringan Telekomunikasi yang memiliki kualifikasi sebagai Information superhighway.

Tujuan Penelitian.

Pada tulisan sederhana ini, penulis memperhatikan sepak terjang PT Telekomunikasi Seluler (Telkom Group) dalam melakukan strategi market, market mapping, market competition, sehingga bisa penulis ketahui lebih jauh, dan juga bisa di jadikan gambaran atau informasi bagi pihak Telekomunikasi Seluler sendiri, untuk tetap berinovasi baik dalam hal segi teknologi Telekomunikasi yang mutakhir, dalam hal service, dan inovasi dalam pasar.

Metodologi Penelitian

Metodologi yang di pakai dalam penyajian penelitian sederhana ini adalah melalui data sekunder, yaitu metodologi pengumpulan data dan informasi melalui Internet treasury literature, misalnya situs, blog, mailing list, koran, majalah, artikel, dan buku, dan personal observer sebagai pengguna setia telkomsel, dan personal intens terhadap dunia Information and Technology dan juga di dunia Telco Industry di Indonesia.

Penulis menggunakan metodolog sederhana ini karena ada beberapa pertimbangan diantaranya adalah:

  • Mempermudah dalam memperoleh data dan informasi secara cepat,
  • Dapat menghemat biaya,
  • Membutuhkan waktu yang relative singkat.

Batasan Penelitian

Kualitas data dan informasi dalam laporan ini di batasi oleh:

  • Penulis masih newee dalam dunia pertelekomunikasian di Indonesia.
  • Keakuratan sumber studi literature yang penulis pergunakan,
  • Batas waktu yang penulis gunakan dalam pembuatan tulisan sederhana ini relative singkat,
  • Validitas informasi yang di gunakan.


Sejarah Singkat Telkomsel

PT. Telekomunikasi Seluler merupakan operator GSM kedua di Indonesia, dengan layanan pasca bayarnya yang di luncurkan pada tanggal 26 Mei 1995. Pada saat itu kepemilikan saham Tsel dimiliki oleh PT. Telekomunikasi Indonesia dengan 51%, dan PT Indosat dengan kepemilikan saham sebesar 49%.

Kemudian pada tanggal November 1997, Telkomsel menjadi operator seluler pertama di Asia yang menawarkan layanan Prabayar GSM. Dengan jumlah pelanggan kurang lebih 51,3 juta pelanggan, dengan market share 53%, Tsel menjadi market leader di Industri Telekomunikasi di Indonesia. Telkomsel focus untuk mengembangkan teknologi komunikasi di GSM, sehingga mereka lebih fokus dan melakukan inovasi-inovasi di dunia GSM, dengan VAS yang sangat unggul yang tidak di miliki oleh competitor lain di Industri sejenisnya. Tsel memiliki tiga produk GSM yaitu SimPATI (prabayar), Kartu AS (Prabayar), serta Kartu Halo (pasca bayar).

Saat ini saham Tsel di miliki oleh TELKOM sebesar 65%, dan perusahaan Telekomunikasi Singapura SingTel sebesar 35%. Dengan di support oleh dua perusahaan besar di dunia telekomunikasi ini, Telkomsel memiliki funding yang kuat dari segi capital, sehingga memiliki infrastructure yang kuat sampai kepelosok-pelosok daerah di Indonesia. Karena dengan infrastructure yang kuat BTS (Based transmitter System) tersebar di semua kecamatan di Indonesia), pelanggan Telkomsel bisa menikmati layanannya, kapan pun, dan di manapun, dan ini yang menjadi kekuatan bagi telkomsel di dalam melakukan market penetration di Indonesia.


Network Operation

Telkomsel berfokus di GSM technology dengan bekerja pada jaringan 900/1800 MHz. Di pasar Internasional, jaringan telkomsel telah mencakup 288 jaringan roaming international di 155 negara pada akhir tahun 2007. Sehingga dengan adanya world widely networks ini, pelanggan Telkomsel dapat tetap dapat berkomunikasi dengan kolega-kolega mereka yang berada di Indonesia, ketika mereka berada di luar negeri.

GraPARI

Untuk memberikan kepuasan pelanggannya, Telkomsel memiliki kantor pelayanan yang di sebut GraPARI atau Graha Pari Sraya, dimana asal katanya berasal dari bahasa Sangskerta yang di berikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk nama kantor pelayanan Telkomsel sebagai tanda penghargaan atas di resmikannya kantor pelayanan Telkomsel di DIY. Dan saat ini Telkomsel memiliki GraPARI yang tersebar di semua kota di Indonesia.

Selain itu juga, Telkomsel memiliki Gerai halo, merupakan kantor pelayanan yang sekup daerahnya lebih kecil untuk melayani pelanggannya yang tidak bisa mencapai ibukota provinsi, sehinggan ini merupakan value added bagi pelanggannya untuk pelayanan yang di butuhkan oleh mereka.

3G/ 3.5 G Technology

Telkomsel memberikan layanan 3G yang memungkinkan penggunanya mendownload video dan menjalajahi dunia internet dengan kecepatan tinggi. Telkomsel adalah operator pertama di Indonesia yang menyediakan layanan 3G ini, selain itu dengan teknologi 3G ini, pelanggan dengan headset yang support 3G, bisa menggunakan layanan video call dimana, pada layanan ini Pelanggan bisa melihat lawan bicaranya. Dan VAS (Value added service) ini mulai banyak di minati oleh pengguna Telkomsel di Indonesia.

Selain itu Telkomsel juga memiliki layanan broadband access internet dengan layanan 3,5 G berteknologi HSDPA dengan kecepatan maksimal data 3.6 Mbps. Untuk saat ini jaringan 3G Telkomsel dapat di nikmatin di 80 kota, dan 3,5 G di 20 kota, dan untuk teknologi GPRS/Edge dapat di akses di seluruh pelosok Indonesia.

Devisi-devisi yang ada di Telkomsel

Berikut ini adalah beberapa devisi yang dimiliki oleh Telkomsel dalam mensupport backbone business mereka dalam memberikan pelayanan yang terbaik bagi pelanggannya:

  • SO (Service Operation)
  • CRM (Customer Relationship Management)
  • Sales dan Marketing
  • RAM (Regional Account Manager) atau Corporate.
  • Adum dan Finance
  • PCMD (preffered Customer Management Development)
  • IT (Information technology)
  • HRD (Human Resources Department)
  • NO (Networks Operation)

Devisi-devisi inilah yang dimiliki oleh Telkomsel, dengan memiliki lebih dari 7000 karyawan yang tersebar di Indonesia, yang ada di GraPARI, Gerai, Networks Operation Building yang tersebar di semua Kota di Indonesia.

Analisa Trend Industri Telekomunikasi di Indonesia

Ranking Perusahaan Telekomunikasi di Indonesia.

Berikut ini adalah list ranking perusahaan telekomunikasi di Indonesia:




1. PT Telekomunikasi Selular

User: 42 million (Oct’07) 38.9 million (53% market share) Mar’07

Launch: Nov’97


2. PT Indonesian Satellite Corporation Tbk

User: 24.1 million (Oct’07) 16.7 million (23%MS) Dec’06

Launch: ‘96


3. PT Excelcomindo Pratama Tbk

User: 10.2 million (14%MS) Jun’07

Launch: Oct’96


4. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Flexi)

User: 4.1 million, (6%MS) Sep’06

5. PT Mobile-8 Telecom (Fren)

User: 2.2 million, (3%MS) Jun’07

Launch: Dec’03


6. PT Bakrie Telecom (Esia)

User: 2.4 million (Oct’07) 1.5 million, (2%MS) Dec’06

Launch: Sep’03


7. PT Hutchison Indonesia

Launch: Mar’07


8. PT Smart Telecom

Launch: Sep’07


9. PT Natrindo Telepon Seluler

Launch: -



10. PT Sampoerna Telekom Indonesia?

Launch: -

11. PT Pasifik Satelit Nusantara



Launch:-

(Sources: priandoyo.wordpress.com)

Dari data peringkat perusahaan telekomunikasi di Indonesia tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa Telkomsel masih menjadi market leader di Indonesia di dunia telekomunikasi dengan pangsa pasar 53%, dengan memiliki jaringan infrastructure (BTS) yang tersebar luas di Indonesia, dan juga pelayanan yang terbaik bagi pelanggannya, menjadikannya mendapatkan Award untuk Call Centre yang terbaik di Indonesia.

Hal ini menunjukan komitmen dari Telkomsel untuk selalu memberikan pelayanan yang terbaik bagi pelanggannya baik dalam hal Service, Jaringan yang luas, Fitur-fitur yang beragam dan menarik, kemudahan dalam melakukan isi ulang (M-Kios) dengan tersebarnya channel-channel dari telkomsel dimana pelanggannya dengan mudah dapat melakukan isi ulang.

Selain itu promo dan program yang di berikan oleh Telkomsel untuk memaintaining customernya terus selalu di tingkatkan misalnya setiap tahunnya Telkomsel mengadakan program Telkomsel Siaga, dimana program ini di tujukan untuk membantu pelanggan mereka yang melakukan mudik ke kampung halamannya dalam rangka Perayaan Idul Fitri yang diadakan rutin oleh Telkomsel setiap tahunnya dengan mendirikan posko Siaga, dan ini salah satu corporate social responsibility juga terhadap masyarakat pengguna operator ini.

Dengan semakin berkembangnya dunia pertelekomunikasian di Indonesia, operator di dunia seluler ini mulai bermunculan operator-operator sejenis yang tentunya juga merupakan ancaman bagi Telkomsel di dalam market competation. Karena banyak dari new entry di Telco Industry ini menggunakan tariff strategy, dengan memberikan tariff yang murah kepada usernya.

Sebagai market leader, ini merupakan ancaman yang serius ketika sebagai market leader tetap tenang dengan market strategi yang ada saat ini. Karena tipikal market yang price sensitive, banyak pelanggan telkomsel yang switch ke operator laen karena iming-iming tariff yang sangat murah, sehingga hal ini menjadi focus utama yang harus Tsel maintaining agar market tetep menjadi milik Telkomsel.

Di pembahasan selanjutnya saya akan mencoba memberikan peta kekuatan Telkomsel dengan melihat dari analisa SWOT, STP Strategy, Route to Market strategy, dan Strategi apa yang cocok di lakukan untuk tetap mempertahan posisi pasarnya sebagai market leader di dunia telekomunikasi di Indonesia.

Daftar Produk Telekomunikasi di Indonesia.

Berikut adalah daftar produk telekomunikasi seluler di Indonesia, menurut jenis dan perusahaan operator,

  1. 3G/3.5 G (HSDPA)

· Telkomsel 3,5 G HSDPA Broadband (Hingga 3,6 Mbps)

· Indosat 3,5 G HSDPA Broadband

· XL 3,5 G HSDPA Broadband.

  1. GSM

· Telkomsel (Tsel)

· Simpati (Prabayar)-no awalan 0812 dan 0813

· Kartu AS (Prabayar)-no awalan 0852 dan 0853.

· Kartu HALO (Pasca bayar)-no awalan 0811, 0812, dan 0813.

· Indosat (Isat)

· Mentari (Prabayar)-no awalan 0815, 0816, dan 0858

· IM3 (prabayar)-no awalan 0856, 0857

· Matrix (Pasca bayar)-no awalan 0814, 0815, 0816, dan 0855

· Excelcomindo (XL)

· XL Prabayar (Bebas, Jempol)-no awalan 0817, 0818, 0819, 0859, 0878, dan 0879.

· XL Pasca bayar (Xplor)-no awalan 0817, 0818, 0819.

· Hutchison Charoen Pokphand Telecom (HCPT)

· 3 (prabayar dan pasca bayar)-no awalan 0896, 0897, 0898, dan 0899.

· Natrindo Telepon Seluler (NTS)

· Axis (prabayar dan pasca bayar)-no awalan 0831, 0838.

· Pasifik Satelit Nusantara (PSN)

· ByRU (prabayar dan pasca bayar)

· PASTI (prabayar dan pasca bayar)


  1. Mobile CDMA.
    • Mobile-8

· Fren (prabayar dan pasca bayar)-no awalan 0885, 0885, 0887, dan 0888.

· Sampoerna Telekom

· Ceria (prabayar dan pasca bayar) no awalan 0828.

· Smart Telecom

· Smart-no awalan 0881, 0882, 0883, 0884.

  1. Fixed Wireless CDMA.

· Bakrie Telecom (BT)

· Esia (prabayar dan pasca bayar)

· Wifone (prabayar dan pasca bayar)

· Wimode (pasca bayar) khusus paket data.

· Esiatel (pasca bayar) khusus untuk wartel.

· Indosat

· Jagoan Starone (prabayar)

· Starone (pasca bayar)

· Mobile-8

· Hepi

· Telkom

· Telkom Flexi Trendy (Prabayar)

· Telkom Flexi Classy (Pasca bayar).

Dari list produk-produk telekomunikasi dari berbagai operator ini, kita bisa melihat bahwa untuk saat ini market masih di kuasai dengan GSM technology di bandingkan dengan Fixed wireless CDMA, dan Mobile CDMA. Walaupun segmentasi pasar dari teknologi ini berbeda-beda, namun Telkomsel sebagai pemain di GSM technology, dengan masuknya teknologi CDMA baik yang mobile ataupun Fixed wireless, merupakan suatu ancaman yang serius bagi Tsel, karena mereka juga melakukan grabbing niche market, dimana Tsel tidak focus disana, dan tentunya dengan biaya tariff yang lebih murah di CDMA technology, banyak user yang sekarang mulai juga switch dari GSM user ke CDMA user.


Dengan jumlah 11 operator yang bermain di GSM dan CDMA technology, tentunya market yang ada juga mulai terbagi-bagi, dan dari setiap operator memilik market strategi yang berbeda-beda tentunya, mulai dari strategi tarrif, menawarkan paket HP murah, events, marketing gimmicks, menggunakan icon public yang menarik, dan sebagainya. Incase sebagai pemain GSM, dimana pasar GSM yang ceruknya mulai di gerogotin oleh CDMA market, dan bagaimana Telkomsel melakukan retaining terhadap usernya. Apa yang harus di lakukan, dan bagaimana menangulangi atau menghadapi persaingan yang berdarah-darah di Industri Pertelekomunikasian di Indonesia.


Analisa Strategi

Environmental Structure di Industri Telekomunikasi di Indonesia

Untuk mengetahui tren industry telekomunikasi yang ada, kita harus mengetahui terlebih dahulu struktur lingkungan industrinya. Lingkungan Industri adalah tingkatan dari lingkungan eksternal perusahaan yang menghasilkan komponen-komponen yang secara normal memiliki implikasi yang relative lebih spesifik dan langsung terhadap operasionalisai perusahaan.

Perkembangan suatu industri tidak terlepas tentunya dari persaingan di dalamnya, incase di Indonesia ada 11 operator yang bermain di dunia Telekomunikasi. Struktur industry mempunyai pengaruh yang relative kuat dalam menentukan aturan permainan. Menurut Michael Porter dalam bukunya Competitive Strategy, keadaan persaingan suatu industry tergantung pada lima kekuatan persaingan pokok, yaitu:

  1. Jasa Pengganti

· macam-macam jasa subsitusi

· perbedaan harga relatif antara jasa subsitusi dengan jasa telekomunikasi itu sendiri

· kecendrungan pelanggan terhadap jasa subsitusi

Jika ancaman barang subsitusi itu rendah maka potensi keuntungan dalam industri tersebut tetap tinggi.

  1. Daya tawar pelanggan dan kondisi pasar

· banyaknya pelanggan

· pembagian pasar

· sensitifitas pelanggan terhadap perubahan harga dan perubahan layanan.

Jika daya tawar pelanggan lemah, maka potensi keuntungan dalam industri tersebut akan naik.

  1. Daya tawar pemasok
    • asal pemasok
    • konsentrasi pemasok
    • keberadaan input subsitusi

Jika daya tawar pemasok rendah, maka potensi keuntungan dalam industri akan naik.

  1. Kondisi persaingan antar perusahaan
    • pemain dominan
    • pemain lainnya
    • hubungan persaingan antar pemain
    • pertumbuhan industri
  1. Ancaman Pendatang baru
    • skala ekonomi
    • identitas merek
    • kebutuhan modal
    • kebijakan pemerintah

Jika penghalang masuk dalam industri itu kuat, maka potensi keuntungan dalam industri tersebut tetap besar.

In case, dalam theory Micheal Porter ini bisa kita simpulkan bahwa, persaingan dalam tiap industry begitu sangat kompleks, baik dari segi internal perusahaan, dan tentunya ancaman dari eksternal perusahaan.

Persaingan di dunia telekomunikasi di Indonesia yang semakin ketat, tentunya pasti akan memunculkan persaingan yang tidak sehat sesama operator sendiri, oleh sebab itu, tentunya sebagai Market Leader Telkomsel tidak sesusah new entry comer dalam hal melakukan market development, dan market penetration di pasar, karena bisa infrastructure adalah hal yang sangat vital bagi sebuah operator dalam memberikan pelayanan yang baik bagi pelanggannya, sehingga user merasa nyaman menggunakan jasa dari operator ini, karena bisa berkomunikasi sampai di pelosok daerah, dengan dukungan BTS Telkomsel yang tersebar sampai pelosok daerah, dan dipastikan di setiap kecamatan di Indonesia, di provide BTS oleh Telkomsel.


Analisa SWOT

Strengths

Financial Strengths karena di support oleh Telkom dan Singtel.

Infrastructure yang tersebar sampai di pelosok daerah di Indonesia.

Partnership dengan 288 jaringan international di 155 negara di dunia.

Market Leader di Indonesia dengan market share 53%.

Memiliki range of products yang menyasar di semua kalangan users.

Pengembang pertama jaringan 3G di Indonesia.

Memiliki Call Centre yang sangat baik yang mensupport backbone business intinya.

Memiliki GraPARI dan Gerai yang tersebar di seluruh kota di Indonesia, sebagai kantor pelayanan kepada customernya.

Kekuatan dalam melakukan branding di semua bentuk media advertising, dari media Koran nasional, majalah, billboard sampai ke daerah-daerah.

Memiliki Brands Image yang kuat di dunia seluler di Indonesia.

Memiliki tariff yang competitive.

Channel management yang kuat.

Adanya CRM team yang baik, yang bisa memaintaining loyalitas pelanggannya.

Opportunities

Saat ini markets Sumatera, Jawa, dan Kalimantan adalah market terbesar dari Telkomsel, namnun demikian jika kita lihat bahwa pasar Indonesia Timur juga mempunyai market potensial untuk dunia seluler, dengan mengembangkan jaringan dan infrastructure.

Pasar mahasiswa dan pelajar merupakan pasar yang sangat besar juga untuk di fokuskan, karena produk Kartu AS yang di segmentasikan buat market middle low, bisa di segmentasikan untuk ini.

Customer sudah mulai pandai dalam melakukan benchmarks terhadap operator seluler, sehingga dengan VAS yang ada di Telkomsel, Tsel bisa melakukan edukasi ke customer, dengan infrastructure yang baik, jaringan yang baik, mereka tidak akan mengalami high traffics di backbone BTS mereka, sehingga dengan sinyal yang kuat, customer dapat dengan nyaman berkomunikasi.

Corporate Markets merupakan pasar yang potensial juga untuk di kembangkan, misalnya dari Tsel Broadband FLASH, bisa menyasar di markets ini, karena biasanya kalangan professional membutuhkan layanan ISP yang bisa di gunakan di mana saja dan kapan saja, sehingga mereka bisa bekerja secara mobile dan remote, dan ini merupakan opportunity bagi Tsel dalam mengrab market ini.

Perubahan strategi yang di lakukan oleh Telkomsel dengan menggunakan Blue Ocean Strategy dari market leader menjadi service leader patut di ancungin jempol, karena ketika menjadi service leader tentunya tingkat CSI dan CLI service mereka akan meningkat, dan tentunya customer juga akan semakin loyal terhadap Tsel.

Weaknesses

.Masyarakat masih melihat tariff telkomsel lebih mahal ketika mereka melakukan benchmarks dengan Operator laen.

Hanya berfokus ke GSM technology.

Cost maintenance BTS cukup tinggi, sehingga sebenarnya Tsel bisa menjual BTS nya ke perusahaan leasing, dan Tsel bisa menyewa, dan tentunya cost-to-cost dari per satu BTS, lebih murah, dari pada own sendiri, dan strategi ini yang sekarang telah di lakukan oleh XL untuk memangkas biaya maintenance dari BTS-BTS mereka.

M-Kios (jalur distribusi isi ulang pulsa) terkadang sering bermasalah, dan Tsel harus berupaya untuk rely on ke Channel lain, sehingga user di daerah dapat dengan mudah melakukan isi ulang pulsa.

Starter pack kartu perdana Tsel, lebih mahal di bandingkan dengan operator lain.

Threats

Perang tariff yang dilakukan oleh operator laen, cukup mempengaruhi pasar Telkomsel, karena mereka berlomba-lomba menawarkan tariff yang lebih murah.

CDMA Technology, yang mulai mengerus pasar GSM technology.

Kondisi Global yang mengalami krisis keuangan, merupakan salah satu threats bagi Tsel, dalam mengembangkan Infrastructurenya, karena pengarus devaluasi rupiah terhadap dolar, dan tentunya kita tahu bahwa vendor-vendor yang bekerjasama dengan Tsel adalah vendor luar seperti NSN, Siemens, Ericson, yang notebene capex(Capital Expenditure) Tsel dalam bentuk dolar.

Agresivitas dari competitor utama XL dan Indosat, dimana, XL saat ini memiliki tagline “dimana ada BTS Tsel di sana ada BTS XL”, XL mulai menyasar market pelosok daerah, yang selama ini Tsel merajai.

Dikembangkannya technology Wimax yang tentunya nantinya merupakan ancaman serius, karena dengan menggunakan teknologi ini, biaya telekomunikasi bisa sangat murah sekali, namun Tsel belum mengembangkan teknologi ini.


























































Dari analisa SWOT yang penulis lakukan diatas, bisa kita simpulkan bahwa persaingan di dunia Telekomunikasi menjadi sangat ketat, dan tentunya ketika Telkomsel masih ikut masuk kedalam permainan red ocean strategy, Tsel juga akan mengalamin ancaman yang sukup serius.

Saat ini, langkah tepat yang telah di ambil Telkomsel dengan menerapkan Blue Ocean Strategy dimana mereka berubah dari market leader menjadi service leader. Dengan tidak ikut-ikutan bermain di perang tariff, namun strategi pasar dengan memberikan value added fitur yang lebih baik, pelayanan yang baik, pengembangan infrastructure BTS, pengembangan jumlah Gerai halo sampai di tingkat kabupaten di Indonesia.


Segmenting Targeting Positioning (STP) Strategy Telkomsel.

Di markets Telkomsel memiliki STP markets yang jelas dimana dalam hal ini range of products yang di miliki oleh Tsel, mempunya market tersendiri. Karena dengan mensegmentasikan pasar dengan jelas, tentunya Tsel dapat lebih berfokus, bagaimana memposisikan produk tersebut di pasat, dan target pasarnya apa, sehingga mereka akan dapat melakukan advertising, effective communications yang jelas ke customer.

Berikut adalah STP dari range of products dari Telkomsel:

· Kartu AS (Prabayar)

Kartu prabayar AS di segmentasikan oleh Tsel kepada market yang middle low, dimana pasar ini price sensitive, customernya lebih prefer untuk menggunakan Massaging, dan tarifnya sangat affordable dan competitive untuk usernya. Sehingga targetnya jelas bahwa kartu AS ini di targetkan untuk pasar Pelajar, Mahasiswa, karena dengan biaya SMS Rp 88 per massage sangat affordable bagi mereka.

Dan karena pasar remaja yang jelas, bagaimana Tsel memposisikan Kartu AS bahwa kartu ini di segmentasikan ke mereka, yaitu dengan cara GenAsik Program, tarrif price yang murah, kemudian program-program laen yang di komunikasikan ke Customer dengan media-media yang cocok bagi remaja, misalnya media Televisi, Koran, Majalah, Radio, billboard, events di sekolah-sekolah.

· Kartu SimPATI (Prabayar)

Kartu prabayar SimPATI di segmentasikan oleh Tsel kepada market yang middle, dimana pasar ini adalah mengutamakan fungsinya untuk komunikasi, membutuhkan kekuatan jaringan atau sinyal yang kuat, dan dalam hal ini kartu simpati menyasar targetnya ke karyawan, ibu rumah tangga, atau pasar middle, dimana membutuhkan fungsi komunikasi bicara sebagai fungsinya.

Sehingga mereka memposisikan pasar ini dengan selalu setiap above the line strategynya memfokuskan kepada pasar yang lebih berfokus untuk berbicara, dengan biaya telpon per menit, misalnya untuk jam-jam tertentu (jam 00.00 sampai jam 06.00 am) biayanya hanya 0.5 IDR per detik, dan ada program Talk MANIA, dimana bisa nelpon selama satu jam setengah dengan biaya hanya 3000 IDR ke semua pengguna Telkomsel di Indonesia.

· Kartu HALO (Pasca Bayar)

Karti Pasca bayar HALO disegmentasikan oleh Telkomsel kepada pasar yang lebih middle-up, karena kebutuhan komunikasi mereka yang lebih, dan tidak lagi mempersoalkan harga sebagai concern mereka, tetapi lebih kecenderungan kepada komunikasi yang optimal, tanpa batas dan waktu.

Sehingga Target dari kartu pasca bayar HALO sendiri di targetkan ke kalangan professional, businessman, dimana mereka membutuhkan komunikasi yang tidak harus melakukan isi ulang, namun mereka hanya once time saja dalam melakukan pembayaran setiap bulaannya.

Positioningnya adalah mereka memfokuskan mengkomunikasikan HALO sebagai product pasca bayar, kepada mereka yang membutuhkan komunikasi tanpa batas, dan tentunya dengan pelayanan yang terbaik yang Telkomsel berikan, karena dalam memaintaining market ini, Telkomsel memiliki cost yang lebih besar di bandingkan dengan kartu prabayar SimPATI dan kartu AS. Setiap usernya, Tsel harus mengeluarkan cost min 3 USD, dalam hal biaya billing, program-program untuk premium user, dan pelayanan yang lainnya.

Dari range of products ini kita telah melihat bahwa dengan STP yang jelas ini, Telkomsel dengan aggressively marketing di media local dan nasional, events, bisa melakukan penetrasi pasar yang baik, dengan memimpin pasar di Indonesia untuk produk seluler dengan market share sebesar 53%.



Route to Market Strategy

RTM atau Route to Market adalah bagaimana Telkomsel memasuki pasar yang telah dengan jelas STP nya dari masing-masing range of products yang dimiliki Telkomsel, untuk lebih close dengan customer, karena effective communication, tanpa adanya jalur distribusi supply chains yang jelas, tentunya pasti akan membuat Telkomsel tidak bisa sebesar saat ini.

Yang penulis perhatikan bahwa dalam mengembangkan pasarnya, Telkomsel memiliki channel-channel yang kuat dimana tersebar sampai ke pelosok-pelosok daerah, sehingga customer dapat menjangkau baik itu Starter Pack Perdana Kartu Prabayar nya, dan juga voucher isi ulangnya.

Telkomsel juga memiliki Sales Team dan marketing devision dimana tim inilah yang bertugas dalam memaintaining channel management dari Telkomsel untuk bisa memanage channel ini dalam keep loyalty untuk mendistribusikan products dari telkomsel.

Telkomsel sangat concern untuk channel management ini, oleh karena itu, banyak Channel yang di support oleh mereka dengan bantuan renovasi tempat, dengan branding Telkomsel, selain sebagai branding, tentunya juga membuat channel Tsel lebih concern dan loyal terhadap telkomsel.


Market Actions Strategy Plans

Berikut ini adalah market actions strategy yang menurut penulis bisa di lakukan oleh Telkomsel, sehingga pasar tetap loyal dan tidak switch ke operator lain,

· Melakukukan Penetrasi dan market development, Telkomsel bisa menggunakan Bundling strategy dengan headset yang murah, dalam hal ini kita bukan meniru strategi pasar Bakrie Telecom dalam memasarkan produk esianya dengan packaging dengan HP murahnya, strategi ini bisa di lakukan oleh Tsel untuk segmentasi pasar yang middle low, karena even strategi ini secara cost-to-cost tidak profitable, tetappi dalam jangka panjang tentunya bisa memaintaining dan pasar pun akan develop. Contoh konkritnya Tsel kerjasama dengan vendor headset murah asal china, di bundle dengan kartu AS, dengan bundle price sebesar Rp 199.000,-.

· Mendevelop pasar pelajar dengan secara aktif approach ke event sekolah-sekolah, kampus-kampus dengan membagikan starterpack perdana gratis, sehingga selain sebagai strategi branding, juga kita bisa memaintaining students market yang tentunya merupakan pasar yang potensial untuk di kembangkan.

· Perbanyak promo program untuk tarrif strategi, incase seperti Talk Mania yang dikeluarkan Telkomsel baru-baru ini untuk pengguna kartu prabayar SimPATI, sangat membantu mereka dalam hal leverage konsumsi pulsa dari user, dan dalam hal ini merupakan sisi positif bagi Telkomsek.

· Bekerjasama dengan vendor-vendor MNC di dunia Computer Hardware, misalnya bekerjasama dengan Hewlett-Packard, dimana Broadband yang dimiliki oleh Telkomsel yaitu FLASH di bundle dengan HP Notebooks, jadi setiap user yang membeli HP laptop mendapatkan bundle FLASH, dan kerjasama B to B ini sangat perlu di lakukan untuk saling mendukung bisnis satu sama lainnya.


References

www.telkomsel.co.id

www.wikipedia.com

www.swa.co.id

priandoyo.wordpress.com

“Marketing management”, Micheal porter.

www.inilah.com

www.google.com

www.bambangpurnomohp.co.cc



Tuesday, December 16, 2008

Strategi Perang Tarif Antar Operator Seluler di Indonesia

Medan
December 17, 2008
04.00 am


Perkembangan dunia telekomunikasi yang semakin maju, yang menimbulkan persaingan yang cukup competitive di dunia telekomunikasi di Indonesia, price war tarrifs tidak bisa di elakan.
Sebelum lebih jauh masuk kedalam strategi ini, telco industry di bagi berdasarkan:

- 3G/HSDPA
Operatornya adalah Telkomsel, Indosat, XL.
- GSM
Operator yang bermain di teknologi ini adalah The Big Three (Tsel, Isat, XL), HCPT(3), NTS (Axis),
- Mobile CDMA
Operator yang bermain di teknologi mobile CDMA adalah M-8(Fren), Sampoerna Telekom, dan Smart Telecom.
-Fixed Wireless CDMA
Operator yang bermain di teknologi ini adalah Bakrie Telecom (Esia), Indosat (Starone), M-8 (Hepi),
dan Telkom (Flexi).

Sehingga dalam persaingan dari operator-operator tersebut, dari masing-masing mereka mempunyai strategi tersendiri dalam melakukan market development, route to market strategy, market penetration, dan market maintaining strategy.

Kebanyakan operator melihat, bahwa pangsa pasar Indonesia, usernya adalah price sensitive sehingga hal ini menimbulkan lah yang saat ini banyak di lakukan oleh operator, untuk melakukan market development, dengan menawarkan tarif yang sangat murah bagi usernya.

Apakah strategi perang tarif ini efektif?, dari analisa yang saya lakukan, Strategi tarif saja tidak cukup ketika new existing telco company mau melakukan grabbing market dari the big three, incase dalam hal infrastructure, mereka belum memadai untuk bisa support BTS sampe ke daerah-daerah dimna the big three ini sangat kuat di infrastructurenya.

VAS (Value Added Service), juga merupakan salah satu yang juga sangat di pertimbangkan oleh user ketika dia mau switch ke operator laen, incase value yang di berikan ke user, seperti fitur-fitur yang di berikan dari operator ke user, bisa memaintaining marketnya untuk tidak switch ke operator laen. Karena Incase, customer selalu melakukan benchmarks dari semua operator, operator mana yang memberikan tarif murah.

Incase, saya akan mencoba melihat strategi yang di lakukan oleh PT Telekomunikasi Seluler (Telkom Group), dalam kiprahnya sebagai market leader dengan 53% pangsa pasar, telkomsel memiliki capital yang kuat, kemudian juga, memiliki infrastructure yang baik, di dukung dengan BTS yang tersebar di setiap kecamatan di Indonesia, Product range yang baik di GSM teknologi, dan mempunyai pelanggan yang loyal.

Saat ini, sebagai market leader, Telkomsel tidak lagi rely on pada Perang Tarif, mereka melakukan blue ocean strategy, dari market leader menjadi service leader. Incase, ketika sebuah perusahaan menjadi market leader di Industrinya, hal yang paling susah di lakukan adalah bagaimana memaintaning customer loyal yang sudah ada, hal ini terlihat bahwa Untuk mempertahankan satu orang pengguna pasca bayar, Operator harus mengeluarkan sekitar 5 usd untuk maintaining biaya billing,
dan biaya lain-lain.

Dan hal ini lah yang sekarang menjadi fokus dari Telkomsel, karena dengan semakin banyak nya
bermunculan new entry di telco industry di Indonesia, Tsel harus berhati-hati dan selalu melakukan terobosan terbaru, sehingga pelanggan mereka tidak lari ke operator laen, yang mengiming-imingkan tarif yang luar biasa murah.

Product range yang cukup baik untuk STP(Segmenting, Targeting, Positioning) yang tepat ke segmentasi market yang tepat, di miliki oleh Tsel, dari produknya mulai dari Halo, Simpati, Kartu As, dan untuk broadband internetnya (Flash).

Sebagai market leader, mereka terus berusaha memaintaining customer mereka dengan memprovide service yang baik pula ke customer mereka, karena dari customer behavior theory, ketika customer puas, mereka akan tetep loyal dan akan terus menggunakan service mereka.

So, untuk memulai sebagai service leader, Tsel sangat tepat dalam melakukan strategi ini, karena tipikal market Indonesia yang market sensitif sangat mudah mereka berubah-ubah dalam menggunakan operator seluler.

Saya sebagai pelanggan telkomsel melihat, pelayanan yang saya terima dari mereka sangat baik sekali, dan saya sangat setuju sekali, kenapa telkomsel selalu mendapatkan Award untuk Call cantre mereka. Itulah yang menjadi value added tersendiri, bagi pengguna Tsel product.

Dengan dukungan yang kuat dari Telkom dan Singtel, dari segi kapitalisasi, Telkomsel sangat kuat di segi finansial, sehingga dalam kondisi apapun di market, mereka tetap bisa exist, dengan terobosan-terobosan terbaru yang terus mereka lakukan untuk memaintaining market mereka, dan tetap menjadi market leader di Telco Industry di Indonesia.

Salam
Bambang Purnomo

Thursday, December 11, 2008

The Telco Industry in Indonesia

The rank of telecommunication industry in Indonesia.

1. PT Telekomunikasi Selular
User: 42 million (Oct’07) 38.9 million (53% market share) Mar’07
Launch: Nov’97

2. PT Indonesian Satellite Corporation Tbk
User: 24.1 million (Oct’07) 16.7 million (23%MS) Dec’06
Launch: ‘96
3. PT Excelcomindo Pratama Tbk
User: 10.2 million (14%MS) Jun’07
Launch: Oct’96
4. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Flexi)
User: 4.1 million, (6%MS) Sep’06
5. PT Mobile-8 Telecom (Fren)
User: 2.2 million, (3%MS) Jun’07
Launch: Dec’03
6. PT Bakrie Telecom (Esia)
User: 2.4 million (Oct’07) 1.5 million, (2%MS) Dec’06
Launch: Sep’03
7. PT Hutchison Indonesia
Launch: Mar’07
8. PT Smart Telecom
Launch: Sep’07
9. PT Natrindo Telepon Seluler
Launch: -April 01
10. PT Sampoerna Telekom Indonesia?
Launch: -

(priandoyo.wordpress.com)
We can see from the data that updated by mas anjar, Tsel is being number one market lea

Why Tsel




Medan,

December 11, 2008

I would like describing one of the biggest player in telco industry in Indonesia, because it seems, is is so interesting for me to know it more, beside of i am the loyal customer for Tsel.


Tsel is established in 1995, as the majority owned by Telkom (65%), and Singtel (35%), Tsel have being established telco player in Indonesia, with 53 % markets share in Indonesia (March, 2008).


Telkomsel, as my experiences as the customers for this Operator, Tsel have good infrastructures in BTS, networks, Services, VAS (value added service). I subscribe 3 GSM for this operators that are One Kartu Halo for mobile phone, Kartu Simpati for Mobile phone, and Kartu Halo for Flash internet broadband.


As the market leader, Tsel have highly compete with Isat, XL, HCPT, NTS, PSTN, and other mobile cdma operator (m-8, smart telecom, sampoerna telecom), and fixed wireless cdma operator (BT, M-8).


In maintaining the markets share for leader in telco industry, i have some insight for Tsel for always providing the competitive tariff's to the user, because most of Indonesian market is price sensitive, so for preventing the switching to other operator, tsel should understand what markets wants, and try to create a good package program, like cheap handphone, with added with tsel starter pack. And it segmented to students markets, i thought that it can be strategy for tsel, for combating other operators, that offer the interesting market gimmicks in grabbing students markets.


Next, i will make an further analyzes for tsel strategy in penetrating market in Indonesia.

(Learning for being business analyst).

Saturday, November 22, 2008

Technology for Business Outcome

Medan,
November 23, 2008
at 03.00 am

I have been written an articles related to my company, and now i am trying for writing it.
Btw, now i am responsible for Medan territory, so i stay in medan now, the biggest city in Sumatera.

I am still working for HP, as the number one IT company in the world (Fortune 500, IT category), HP have plays important role for development of technology in the world.
HP have range of end-to-end products of technology, while competitors don't have.

As the biggest IT player, HP have the solution for the business, because as the increasing the scale of business, Most of the business now need Technology for business outcomes, it means, the technology support them for growing as integration.

HP can provide the solution to the business.

Technology is the key point and main gate for the business in climb the grow of business.

Cheers
bambang