Rabu, 24 Oktober 2007

Kesulitan yang dapat dimaknai


Oct 23, 2007

Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit.
Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah
berjuang.
Setiap saat satu persoalan terpecahkan, persoalan yang lain muncul.
Ayahnya, seorang juru masak, tersenyum dan membawa anak perempuannya
ke dapur. Ia lalu mengambil tiga buah panci, mengisinya masing-masing
dengan air dan meletakkannya pada kompor yang menyala. Beberapa saat
kemudian air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama, ia
memasukkan wortel.
Lalu, pada panci kedua ia memasukkan telur. Dan, pada panci
ketiga ia memasukkan beberapa biji kopi tumbuk. Ia membiarkan
masing-masing mendidih.
Selama itu ia terdiam seribu basa. Sang anak menggereget gigi,
tak sabar menunggu dan heran dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Dua
puluh menit kemudian, sang ayah mematikan api.
Lalu menyiduk wortel dari dalam panci dan meletakkanya pada sebuah piring.
Kemudian ia mengambil telur dan meletakkanya pada piring yang sama.
Terakhir ia menyaring kopi yang diletakkan pada piring itu juga.
Ia lalu menoleh pada anaknya dan bertanya, "Apa yang kau lihat, nak?"
"Wortel, telur, dan kopi, " jawab sang anak. Ia membimbing anaknya
mendekat
dan memintanya untuk memegang wortel. Anak itu melakukan apa yang diminta
dan mengatakan bahwa wortel itu terasa lunak.
Kemudian sang ayah meminta anaknya memecah telur. Setelah telur itu
dipecah dan dikupas, sang anak mengatakan bahwa telur rebus itu kini
terasa keras.
Kemudian sang ayah meminta anak itu mencicipi kopi. Sang anak
tersenyum saat mencicipi aroma kopi yang sedap itu. "Apa maksud semua ini,
ayah?"
tanya sang anak.
Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami
hal yang sama, yaitu direbus dalam air mendidih, tetapi selepas perebusan
itu mereka berubah menjadi sesuatu yang berbeda-beda. Wortel yang
semula kuat dan keras, setelah direbus dalam air mendidih, berubah menjadi
lunak dan lemah.
Sedangkan telur, sebaliknya, yang semula mudah pecah, kini
setelah direbus menjadi keras dan kokoh. Sedangkan biji kopi tumbuh berubah
menjadi sangat unik. Biji kopi, setelah direbus, malah mengubah air yang
merebusnya itu.
"Maka, yang manakah dirimu?" tanya sang ayah pada anaknya. "Di
saat kesulitan menghadang langkahmu, perubahan apa yang terjadi pada
dirimu?
Apakah kau menjadi sebatang wortel, sebutir telur atau biji kopi?"

Dari kisah yang di ilustrasikan diatas, kita dapat mengambi kesimpulan bahwa, betapa pun kesulitan itu menghadang kita, kita tidak boleh mengeluh, Mengucapkan syukur dan berusaha keras tentunya akan membuat kita lebih tegar dan menjadi sosok yang tangguh dan tentunya akan membuat suatu kekuatan bagi kita dalam menghadapi kehidupan ini. Berpikirlah positif bahwa, kesulitan yang kita hadapi tersebut pasti mempunyai makna dan akan membuat kita lebih baik lagi. Hadapilah hidup ini dengan senyuman dan kebahagian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

hello guys