Sabtu, 09 Februari 2013

Kekuasaan dan Kedudukan untuk Mengeruk Harta Negara


Bengkulu,
Februari 10, 2013

Satu minggu ini saya dinas ke Kota Lubuk Linggau, Lahat dan Kota Palembang dimana saat ini baligho, serta spanduk para Cagub dan Cawagub Sumsel 1 bertebaran dimana-mana, karena memang Provinsi Sumatera akan menggelar pesta demokrasi melalui Pemilu calon pemimpin daerahnya untuk 5 tahun kedepan.

Banyak dari para calon yang mulai menggumbar janji, mulai dari pendidikan bersih, air bersih, dan janji-janji lainnya, seperti salah satu calon, yang merupakan Pejabat Incumbent saat ini memiliki slogan Sumsel Gemilang. Pendidikan gratis dan sebagainya.

Baru kali ini, saya tertarik untuk menulis mengenai hal ini, karena saya "agak apatis" dengan para pemimpin di negeri ini, hal ini dikarenakan pada saat mereka berkampanye untuk mencalonkan diri, yang di janjikan adalah untuk kepentingan rakyat, mulai dari pendidikan gratis, kesehatan gratis, dan sebagainya. Namun setelah kepilih menjadi pemimpin daerah, yang di utamakan adalah memperkaya diri sendiri dan kelompoknya, menguras harta negara. Jarang yang blusukan ke daerah-daerah untuk melihat masyarakat yang sangat butuh perhatian dari negara. Jalan-jalan yang menjadi infrastruktur utama masyarakat banyak yang rusak, fasilitas umum sangat buruk, sehingga saya tidak appreciate dengan kebanyakan pemimpin di negeri ini.

Ketika Jokowi terpilih menjadi pemimpin DKI Jakarta, banyak yang sangat simpatik dengan beliau, latar belakang dan keberhasilan beliau yang membangun kota SOLO sebagai kota budaya, dan saat ini terus blusukan ke daerah-daerah di Jakarta, untuk mengetahui permasalahan masyarakat Jakarta yang sebenarnya. Tidak banyak pemimpin bangsa yang seperti beliau, yang memang bekerja untuk kepentingan rakyat, menggunakaan APBD sepenuhnya untuk pembangunan daerah, bukan di sunat untuk masuk kekantong pribadi atau kelompoknya.

Suatu negara yang maju, adalah negara yang selalu mementingkan rakyatnya, membangun infrastruktur yang baik, menjamin tidak adanya pungutan liat, tidak ada korupsi, masyarakat yang mematuhi aturan negaranya, serta memiliki pemimpin yang merakyat, bukan sibuk pencitraan untuk membangun image. Karena masyarakat bisa menilai sendiri siapa pemimpin yang sibuk membangun pencitraan, dan mana pemimpin yang benar-benar bekerja untuk rakyat.

Setiap kita adalah pemimpin/khalifah, paling tidak pemimpin bagi diri sendiri. dan Setiap khalifah akan dimintai pertanjungjawabannya nanti kelak di akhirat. Maka apapun yang anda lakukan saat ini, maka lakukan lah yang terbaik. Harta, kekuasaan tidak akan kita bawa mati, maka apa yang kita dapatkan amanah saat ini, lakukanlah yang terbaik, semoga kita selalu menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Amin


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

hello guys