Minggu, 01 Juli 2012

Novel Inspirasi Berjudul Sepatu Dahlan


Bengkulu,
01 Juli 2012

Sewaktu jalan-jalan di Toko Buku Gramedia di Pusat Perbelanjaan Mega Mall di Kota Bengkulu, mata saya tiba-tiba tertarik pada suatu rak, dan ada buku yang menarik hati untuk saya baca yang berjudul "Sepatu Dahlan" karangan Khrisna Pabichara. Sebelum membaca novel ini saya sudah cukup kenal sosok Pak Dahlan Iskan sebagai CEO Jawa Pos Group, kemudian menjadi CEO PLN dan saat ini menjadi Menteri BUMN.

Dengan sosok yang fenomenal, nyentrik, suka sepatu kets walau di acara resmi dimana pun beliau berada, ada sesuatu yang sangat saya kagumi dari beliau adalah kesederhanaan beliau menjadi seorang pemimpin. Terlepas beliau seorang CEO, beliau bisa melepas kepangkatan, kebangsawanan seorang CEO menjadi panutan bagi semua orang, bahwa seorang leader haruslah bisa berbaur kesemua orang, bisa merakyat, dan bisa menjadi teladan dan contoh bagi kita untuk sosok seorang pemimpin yang penuh dengan passion, eagerness yang tinggi, dan selalu rendah hati.

Ketika membaca Novel ini, saya tidak berhenti membuka halamannya lembar demi lembar, hal ini dengan tutur bicara pada novel ini yang asik di baca, saya sangat tertarik dengan kehidupan beliau, dimana dengan penuh kesusahan dan kepayahan, beliau bisa dengan tekun dan ulet untuk bekerja keras untuk mencari uang tambahan untuk membantu bapak beliau untuk bisa sekolah, dengan ngangon domba, atau menjadi buruh tebu seperti di ceritakan pada buku ini.

Banyak hal yang saya pelajari dari novel ini, selain semangat ketekunan, keuletan, kerendah hatian, dan nilai moral lain yang sangat banyak kita pelajari dari novel ini, terkadang kehidupan yang pahit membuat seseorang untuk tuff, dan memiliki semangat yang tinggi untuk meraih mimpi-mimpinya, berbudi pekerti nan luhur, rendah hati, dan tentunya sangat menjadi teladan bagi kita semua.

Sosok pemimpin seperti ini yang sebenarnya kita dambakan untuk memimpin bangsa ini, karena dengan sosok ini beliau akan masuk kesemua lini, dengan tanpa tinding aling-aling birokrasi yang selama ini membuat governance management di Indonesia kurang berjalan dengan baik.

Maka syukurilah kehidupan yang kita miliki saat ini, kita tidak perlu menahan lapar karena tidak bisa makan seperti pada masa kecil beliau, kita bisa memiliki pakaian yang bagus, uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kita, kendaraan yang bagus, dan kesehatan serta keluarga yang lengkap, maka berbuatlah kebaikan, bekerja keras, dan selalu rendah hati untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

That's what we called life.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

hello guys