Selasa, 31 Juli 2012

Bisnis CDMA yang tidak lagi Mengairahkan


Hampir dua dasawarsa ini Industri Telekomunikasi baik di Teknologi Fixline PSTN, CDMA ataupun GSM Seluler sangat menjanjikan bagi Telco Operator, sehingga di Indonesia sampai saat ini lebih dari 10 Operator yang beroperasi yang menikmati manisnya kue di Industri ini. Industri ini berkembang sangat pesat dikarenakan:

   1.Kodrat dasar manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan sarana untuk berkomunikasi ke-sesama sehingga meleverage Industri ini menjadi primadona bisnis baru selain bisnis consumer goods.

   2. Perangkat Telekomunikasi yang semakin terjangkau oleh semua lapisan masyarakat membuat ini tumbuh sangat tinggi di antara industri lain, sehingga dari 5 tahun terakhir terlihat bahwa dari kalangan bawah pun dengan sangat mudah memiliki HP.

   3. Tarif Telekomunikasi yang Murah, tarif merupakan salah satu hal yang juga mendongkrak masyarakat berbondong-bondong untuk menikmati komunikasi murah. Mungkin dahulu bisa dikatakan yang memiliki HP adalah orang-orang the have, namun tidak lagi untuk saat ini, dengan peta persaingan yang sangat ketat, Tarif semakin murah, malah untuk Indonesia tarif Telekomunikasi kita merupakan salah satu tarif termurah di Asia. Sehingga semua lapisan masyarakat bisa menikmati fitur dasar Telekomunikasi yaitu Voice dan SMS yang masih menjadi primadona hingga saat ini.

  4. Banyak Pilihan Operator baik operator CDMA maupun yang berbasis GSM, hal ini membuat persaingan semakin ketat, sehingga operator telekomunikasi berlomba-lomba untuk menawarkan tarif termurah, sehingga pelanggan lebih dimanjakan untuk memilih operator terbaik untuk mendukung sarana komunikasinya.

  5. Coverage Jaringan yang semakin luas. Hampir 95% wilayah Indonesia sudah terconnected dengan jaringan Telekomunikasi baik itu CDMA, Fix line ataupun teknologi GSM Seluler yang bisa menembus pedalaman Indonesia, topologi geografis kepulauan Indonesia, sehingga tidak ada lagi kesenjangan komunikasi baik masyarakat yang dikota maupun di pelosok pedesaan, semua masyarakat saat ini bisa ber Halo-Halo  melalui telpon genggamnya dengan mudah.

  6. POS (Point of Sales) dari produk baik itu perdana, Voucher yang sangat mudah ditemui di counter-counter HP, yang mungkin sangat berbeda pada satu dasawarsa lalu, dimana Telkom yang merajai Telpon Tetap, untuk berlangganan Telpon Rumah bisa antri, karena infrastrukturnya masih belum sehebat saat ini, dengan kemudahan teknologi Radio, yang bisa menjangkau masyarakat sampai pelosok-pelosok. Selain itu untuk isi ulang juga sangat mudah dilakukan misalnya menggunakan hampir semua jasa perbankan di ATM, M-Banking, SMS Banking, sehingga sangat mempermudah masyarakat untuk menikmati Telekomunikasi saat ini.

Ketiga Poin utama ini menjadikan bisnis Telekomunikasi di Indonesia tumbuh dengan pesat, selain juga regulatory dari pemerintah yang mendukung iklim sehat di Industri Telekomunikasi di Indonesia saat ini. Namun walaupun ada lebih dari 10 Operator Telekomunikasi di Indonesia saat ini, seiring perjalanan bisnis yang penuh persaingan, maka operator yang bisa mengikuti Road Map Bisnis Telekomunikasilah yang bisa tetap bertahan.

Hampir satu dasa warsa ini Teknologi Selululer (GSM) sangat berkembang pesat, begitu pula teknologi CDMA, namun karena saat ini jika kita review tarif GSM sudah lebih murah dari tarif CDMA, membuat beberapa operator Telekomunikasi yang berbasis CDMA mengalami penurunan performance, hal ini terlihat dari beberapa laporan perusahaan CDMA Telekomunikasi yang mengalami kerugian hampir ratusan Milyar Rupiah.

Operator yang bergerak di bidang CDMA yang marketnya lagi berdarah-darah saat ini di Indonesia adalah:
  1. Telkom (Flexi)
  2. Indosat (Star One)
  3. Sampoerna Telekomunikasi (Ceria)
  4. Bakrie Telekom (Esia)
  5. Smart Telekom (Smart)

Indosat di Semester 1, 2012 mengumumkan bahwa perusahaan mengalami kerugian hampir 130 M, jumlah yang sangat besar tentunya, dan CEO Indosat menyatakan bahwa bisnis CDMA (Starone-Red) masih "Galau", hal ini dikarenakan Indosat masih bimbang untuk melakukan spin-Off, atau bisnis CDMAnya di lepas atau merger dengan Perusahaan lain.

Begitu pula dengan Btel (ESIA), di laporan akhir tahun 2011, bisnis perusahaan memiliki performansi yang semakin menurun, hal ini karena tekanan dari industri seluler yang mengakuisisi pasar CDMA. Agak berbeda halnya dengan Telkom (Flexi), Flexi bisa membukukan penambahan pelanggan di Semester 1, 2012. 

Smart Telekom (SMART), dari review saya walaupun secara biz performance (Laporan Keuangan) belum saya liat, namun SMART melakukan inovasi dengan fokus pada pengembangan pasar Broadband, dimana SMART melakukan gelaran coverage EVDO (Teknologi Sekelas 3G), sehingga pelanggan bisa menikmati koneksi broadband dengan cepat, dan murah. SMART sangat aggresive untuk berpromosi untuk "dodolan" modem bundling Smart Internet Package, sehingga fokus jualan voice dan sms nya saat ini agak sedikit kalah jika dibandingkan jualan "Data"nya.

Hemat saya, ketika semakin banyak operator yang beroperasi di satu sisi pelanggan di untungkan, namun disisi lain akuisisi pelanggan antar operator semakin gencar, sehingga perang tarif pun tidak terelakkan, maka Investasi beberapa operator yang sudah sangat besar dikeluarkan tidak kembali, sehingga dengan biaya operasional yang tinggi, namun Revenue yang semakin tergerus dengan adanya perang Tarif ini membuat beberapa operator mengalami kerugian terus menerus.

Saya yakin beberapa bulan kedepan ada beberapa operator besar akan melakukan Corporate Action untuk merger, bisa saja Flexi di spin-off oleh Telkom, sehingga menjadi unit usaha sendiri seperti Telkomsel, dan Flexi bisa melakukan merger dengan STAR-One, atau juga dengan ESIA. 

Hal ini terlihat, di tahun ini BTEL (ESIA) melakukan konsolidasi dengan Ceria (Perjanjian Kerjasama), namun bisa saja kedepannya antara ESIA dan CERIA bergabung menjadi satu kesatuan. 

Begitu pula di bisnis Seluler, mungkin saat ini bisnis seluler memasuki Saturation phase, dimana pasar mulai jenuh di basic service (Voice dan SMS), sehingga beberapa operator seluler GSM seperti Telkomsel, XL, Indosat, Three dan Axis bergerak menuju second curve, dengan berlomba-lomba "jualan" data broadband dengan gelaran Coveraga Node-B, istilah untuk 3G, yang saat ini di semua Ibu kota Kabupaten pelanggan sudah bisa menikmati koneksi Internet murah dan cepat dengan adanya Teknologi 3G ini.

Namun tidak menutup kemungkinan hal serupa terjadi, ketika Operator Seluler tidak bisa bersaing di second curve ini, maka yang terjadi sama halnya dengan Industri CDMA saudaranya, Bisnis ini akan berdarah-darah, dan saya yakin satu dasawarsa kedepan ada aksi korporasi yang melakukan Merger, ataupun Akuisisi untuk menjadi satu kesatuan usaha.

Layaknya di suatu negera, klo melihat Industri Telekomunikasi di negara Tetangga (Malaysia, Singapore, Thailand, bahkan China), mereka hanya memiliki 3 sampai dengan 5 operator yang beroperasi, sehingga Industrinya relatif stabil.

Kita sebagai pelanggan di Indonesia patut bersyukur, karena kualitas Teknologi Telekomunikasi di Indonesia sudah sangat bagus, hal ini terlihat gelaran 3G yang sudah bisa kita nikmati, dibeberapa negara di Asia, 3G masih belum bisa di nikmati, mereka masih seperti menikmati Telekomunikasi di Indonesia pada dasawarsa yang lalu, hanya bisa menikmati Voice dan SMS saja, teknologi Internet broadband masih jauh memadai, dan perangkat smart phone, tablet masih belum leluasa dinikmati dengan koneksi yang cepat seperti di Indonesia. Alhamdulillah ini merupakan salah satu keuntungan banyak operator di Indonesia, bahkan beberapa operator di Indonesia seperti Telkomsel sudah mulai melakukan uji coba Teknologi LTE yang benar-benar truly broadband dimana pelanggan bisa menikmati koneksi hingga 40Mbps. Walaupun saat ini pelanggan di Indonesia sudah bisa menikmati koneksi cepat hampir 14 Mbps dengan Teknologi HSPA + di beberapa titik kota broadband di Indonesia.

Berikut kira-kira review sederhana saya, semoga dengan adanya perbaikan yang terus dilakukan, Telekomunikasi di Indonesia semakin maju, karena Telekomunikasi merupakan salah satu faktor penggerak perekonomian suatu negera. Sehingga Indonesia menjadi negara yang berkembang menjadi lebih baik lagi, rakyat Sejahtera, Bebas Korupsi, aman dan nyaman untuk tinggal di negara yang kaya akan budaya dan kekayaan alam ini. Amin.

1 komentar:

  1. ijin menambahkan, bahwa bisnis CDMA akan semakin menurun dapat dilihat dari:
    1. teknologinya. setelah standar CDMA2000 1x-EVDO Rev. B, tidak adalah pengembangan teknologi berikutnya. para sponsor standar ini (terutama Qualcomm) sudah angkat tahan dan ikut ke standar GSM (LTE plus/True 4G). akan menjadi pertanyaan besar akan kemana dan kapan para operator CDMA 'berpindah' jalur?? gimmick istilah 3G, 3,5G, HSDPA, HSPA yang mengklaim kecepatan transfer data yang tinggi (walaupun kenyataannya tidak seperti yang dipromosikan) merupakan modal jualan operator GSM dalam mempromosikan produknya. tidak bisa dibayangkan apa yang harus dijual oleh operator CDMA ketika teknologinya sudah jauh tertinggal.
    2. regulasinya (di Indonesia). pemerintah melalui Kominfo sudah merencanakan menghapus ijin FWA (yang dipegang Flexi, Esia, StarOne dan Hepi) pada tahun 2015 dan semuanya akan diberikan ijin sebagai operator seluler sehingga semua bermain di level playing field (kompetisi terbuka). maka semua harus bayar BHP frekuensi dan biaya interkoneksi, tak ada lagi yang bilang CDMA itu MURAH. advantage apalagi yang akan dipunyai para operator CDMA??

    BalasHapus

hello guys