Jumat, 03 Agustus 2012

Ceria Tenggelam, Esia Berharap Bersinar


Bengkulu, 
03 Agustus 2012

Beberapa waktu lalu saya menulis mengenai Bisnis Telekomunikasi yang berbasis CDMA yang lagi berdarah-darah, dan saya memprediksi bahwa ada beberapa operator yang melakukan Corporate Action seperti akuisisi, Merger, Konsolidasi, Spin Off bahkan Pailit.

Di penghujung tahun 2008-2009 kita masih mendengar Operator Telco yang berbasis CDMA yaitu Mobile-8, namun hingga saat ini aktivitas marketingnya baik di Televisi, di outlet-outlet POS (Point Of Sales) produk-produk Telco sangat sulit menemukan produknya, apakah perusahaan ini pailit?. Operator dengan produk Fren dan Hepi ini ternyata di pertengahan 2009 sudah tidak bisa lagi bertahan diranah persaingan Industri Telekomunikasi, sehingga perlahan-lahan operator ini tidak lagi sanggup untuk menanggung beban operasional serta hutang perusahaan.

Beberapa jam yang lalu, sahabat saya mengirimkan massage di BBM saya, yang menyatakan bahwa Sampoerna Telecom tidak ada lagi sekarang, karena Bakrie Telecom telah mengakuisisi perusahaan tempat ia bekerja, sehingga jelaslah bahwa BTEL menjadi pemilik perusahaan dengan produk CERIA tersebut. Dengan aksi korporasi ini, BTEL bisa memiliki coverage CERIA yang kita tahu bahwa di daerah-daerah terpencil CERIA memiliki jaringan yang cukup luas, sehingga hal ini di manfaatkan oleh BTEL untuk masuk ke pasar yang selama ini dikuasai oleh CERIA.

Seperti pada artikel saya sebelumnya, saya mengamati bahwa Operator CDMA saat ini sudah mulai fokus untuk Dodolan Broadband, hal ini dikarenakan untuk di basic services produk CDMA kalah pamor (tarif dan teknologi) dibandingkan dengan produk GSM, sehingga mereka berupaya untuk mencari produk baru yang saat ini sangat tumbuh dengan pesat, yaitu pasar broadband. Dengan akuisisi Sampoerna Telecom, BTEL akan memiliki coverage yang lebih luas untuk menjual produk broadband AhA nya, sehingga dengan strategi serupa competitornya SMART, Aha dijual bundling dengan modem, serta gratis Internet package yang menjadi daya jual untuk meleverage Revenue mereka, serta meningkatkan utilisasi dari gelaran Infrastruktur Jaringan yang mereka miliki, sehingga bisa maksimal. Jika kita menilik laporan tahunan BTEL pada 2011 lalu, BTEL mengalami kerugian yang mencapai 783 M. Angka yang sangat besar tentunya. Apalagi setelah salah satu Nahkoda andalannya Erik Meijer hengkang ke Indosat, kondisi Btel akan terus mengalami penurunan jika tidak terus mengepakkan sayap lebih kuat lagi, untuk tetap bernafas, dan bisa terbang lebih tinggi lagi.

Jika menilik Telkom Flexi yang merupakan pemimpin pasar untuk pasar CDMA, ada beberapa hal yang menyebabkan Flexi akan tumbuh secara stagnan jika tidak melakukan perubahan dalam hal teknologi berbasis broadband hal ini terlihat bahwa:

1. Flexi masih mengandalkan jualan Voice dan SMS yang saat ini pasarnya sudah mulai jenuh, dan tentunya persaingan dan caplok-mencaplok pelanggan dari Operator GSM, yang terus membuat pasar CDMA semakin sedikit.

2. Pasar Broadband jika saya perhatikan belum terlalu menjadi Dodolan Utama Bagi Flexi, hal ini terlihat bahwa flexinet masih kurang diminati dipasaran, hal ini bisa saja karena masih minimnya gelaran coverage EVDO, sehingga tentunya ketika Flexi tidak melakukan evolusi dan perubahan strategi marketing, saya yakin nasibnya bisa seperti Mobile-8.

3. Flexi masih sulit mobile, karena harus menggunakan kode akses dan combo saat berpindah dari daerah satu ke daerah yang lain, sehingga pelanggan yang mobile akan mengalami kesulitan, sehingga pelanggan tentunya akan memilih produk gsm yang lebih nyaman untuk digunakan dan mobile.

Analisa saya untuk Telkom Flexi agar bisa tetap bertahan dan tetap menjadi pemimpin pasar telekomunikasi berbasis CDMA yaitu:

1. Telkom melakukan Spin-Off untuk memisahkan Flexi untuk menjadi Unit bisnis tersendiri seperti Telkomsel. Sehingga lebih Fokus, dan lebih leluasa untuk bergerak seperti saudaranya Telkomsel yang bisa bergerak cepat memimpin pangsa pasar Telekomunikasi di Indonesia.

2. Flexi bisa mendapatkan ijin seluler dan broadband, sehingga di era Second Curve ini Flexi tidak lagi menawarkan melulu di basic service, namun bisa melakukan hal yang lebih kreatif lagi untuk masuk ke pasar broadband yang saat ini memiliki pasar yang besar. Hal ini terlihat bahwa hampir 20% Revenue Operator saat ini berasal dari produk broadband dan VAS, sehingga menjadi peluang pasar yang bisa di ambil oleh Flexi.

3. Desas-Desus pada tahun-tahun sebelumnya yang menyatakan bahwa Manajemen Telkom akan mengakuisisi ESIA, menurut hemat saya lebih baik Flexi melakukan corporate action dengan mengakuisisi Starone yang saat ini bisnisnya di Ujung Tanduk di Indosat, karena jumlah pelanggannya yang turun terus menerus, infrastruktur yang tidak banyak di bangun, dan tentunya menjadi beban perusahaan bagi Indosat, menjadi kesempatan bagi Flexi untuk lebih besar lagi setelah Spin-Off dari TELKOM dan mengakuisisi STAR ONE dari Indosat.

Dengan modal yang kuat, Coverage yang lebih luas dengan support anak usaha Telkom lainnya, saya yakin Flexi bisa tumbuh besar di tahun-tahun berikutnya, untuk membuat produk baru yang lebih keren, dan dibutuhkan pasar. Its just the matter of time. Lets see !!!

3 komentar:

  1. Kalo ingin Meenjadi jawara harus menciptakan pasar, maka jadilah market driving. Jangan jadi market drive.. :).

    BalasHapus
  2. Mantabs Mas bro.. Hidup Bakrie..

    BalasHapus
  3. Mantap.. Hidup bakrie.. Goes To 2014

    BalasHapus

hello guys