Minggu, 08 November 2015

Book Review - Selimut Debu oleh Agustinus Wibowo


  
Bengkulu,
08 November 2015.

  • Judul          : Selimut Debu
  • Penulis       : Agustinus Wibowo
  • Penerbit    : Gramedia Pustaka Utama
  • Jenis          : Memoar
  • Genre         : Traveling, Sosial
  • Terbit        : Januari 2010
  • Halaman     : xiv + 461
  • Ukuran        : 13,5 x 20 cm
Ini adalah buku pertama Agustinus Wibowo. Namun, saya justru membacanya terakhir, setelah Titik Nol dan Garis Batas. Masih dengan gaya yang sama, Agustinus tidak cuma traveling untuk mengunjungi tempat wisata terkenal di suatu negara, tapi juga menyelami kehidupan masyarakat di sana. Agustinus tidak hanya melihat keindahan alam, tapi juga fakta sosial, ekonomi, serta sejarah dari setiap tempat yang dikunjungi. Dan kali ini, Agustinus bercerita tentang negeri perang: Afghanistan.


Berbeda dengan dua buku lainnya yang bercerita tentang banyak negara sekaligus, kali ini penulis hanya fokus ke satu negara. Agustinus memang tinggal cukup lama di Afghanistan karena sempat kehabisan uang dan bekal perjalanan. Oleh karena itu, ia bekerja sebagai fotografer dan editor di salah satu kantor berita di sana. Dalam kurun waktu tersebut, Agustinus menjelajahi negeri Afghanistan. Ia berkelana mulai dari ibu kota, tepi timur, selatan, utara, barat, hingga jantung Afghanistan di tengah-tengah negeri (tapi paling menderita), serta Lembah Wakhan yang terabaikan.
Agustinus mengunjungi semua lokasi penting di Afghanistan. Mulai dari Kabul: ibu kota yang gemerlap. Bamiyan: kota suci peninggalan Buddha. Kandahar: wilayah konflik markas Taliban. Wakhan: lembah terkucil yang mimpi hidup di Tajikistan. Serat: gerbang mengadu nasib ke Iran nan makmur. Lalu Provinsi Ghor: jantung negeri yang justru mustahil ditinggali. Juga masih banyak tempat-tempat lain yang dikunjungi Agustinus.


Agustinus juga berusaha mengenal setiap penghuni Afghanistan. Mulai dari penduduk Kabul, hingga pendukung Taliban, pejuang gerilya, tentara Amerika, juga para ekspatriat. Dia juga menyelami setiap suku di negeri miskin ini. Mulai dari Hazara yang berwatak keras dan sering memberontak. Pasthun, yang konservatif dan patuh adat, basis Taliban. Ismaili di utara yang cenderung bebas dan pro komunis. Wakhi saudara orang-orang Chapursan di Pakistan.
Agustinus terus berpindah untuk membuka tabir Afghanistan. Meski ia tahu negeri ini tak pernah aman. Bisa saja Taliban menculiknya di siang bolong. Bom pun meledak tanpa kenal waktu, tak pula memilih lokasi. Ia bisa mati sia-sia menginjak ranjau kapan pun. Ancaman itu pula yang dirasakan oleh setiap penghuni Afghanistan.
“Di sini semua mahal. Yang murah cuma satu: nyawa manusia.” Agustinus.


Dengan membaca buku ini, banyak makna kehidupan yang saya dapatkan, mulai dari sulitnya kehidupan di negeri penuh perang Afganistan, Indahnya pemandangan Alam, dan beragam pemahaman mengenai bagaimana mereka memuliakan Mahmen atau tamu, walaupun dengan kesederhanaan mereka, Orang Afganistan tetap melayani tamu sebagai raja, dan sisi-sisi lainnya yang tidak pernah kita bayangkan mengenai kehidupan di negeri ini.

Apa yang ditulis Agustinus Wibowo, yang notabene memang pernah lama tinggal disana, memperkaya khazanah berpikir saya mengenai negera-negara lain yang lebih sulit dari Negara yang kita cintai Indonesia, sehingga membuat kita lebih bijak dan lebih banyak bersyukur dengan apa kenikmatan yang kita rasakan di Indonesia, mulai dari tanahnya yang subur, alamnya yang aduhai, keramahan penduduk Indonesia, keanekaragaman kuliner yang maknyus, dan keamanan yang lebih nyaman dibandingkan Negara Perang seperti Afganistan.



Buku ini layak anda baca, dan ketiga buku Agustinus Wibowo, Pria asal Lumajang, Jawa Timur, ini telah saya baca semua, dan setiap bukunya sangat inspiring dan memberikan warna-warni pengalaman hidup yang bermakna.

Selamat membaca, dan selamat berkarya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

hello guys