Rabu, 09 September 2015

Bersyukur sebagai Bangsa Indonesia.


Bengkulu, 
09 September 2015.

Sebelumnya saya mengucapkan Selamat Ulang Tahun kepada Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang ke 66 Tahun. Sebagai Bapak bangsa yang pernah memimpin di Negeri yang kita cintai ini, sepatutnya kita menghargai beliau sebagai salah satu putra terbaik bangsa yang dimiliki Negara yang kita cintai ini.

Mengutip barisan kata indah dari Lagu beliau yang berjudul "Kawan",   dari Album Rinduku Padamu - 2007, yaitu "Tengoklah Indahnya Negeri ini, kebesaran yang kita miliki, tanah air yang indah dan permai, bersama patut kita syukuri".

Jika saya menginterprestasikan kata demi kata di balik lagu ini, memiliki makna yang sangat mendalam, karena beliau bisa mengenjawantahkan apa yang ada di dalam hatinya, dan mengungkapkan dalam bentuk kata-kata, bagaimana beliau bangga dan bersyukur sebagai Bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia dengan segala permasalahan yang dihadapi saat ini, misalnya permasalahan Asap di Pekanbaru, Jambi, Palembang dan beberapa daerah di Sumatera yang berdampak pada kondisi kesehatan masyarakat, lumpuhnya transportasi udara, kegiatan belajar mengajar di liburkan, sungguh sangat menyedihkan hati. 



Belum lagi permasalahan kondisi perekonomian secara makro, dimana nilai tukar lemah terhadap dolar, stabilitas politik yang tidak stabil, korupsi yang seakan-akan menjadi budaya, Anggota DPR yang menghambur-hamburkan uang hanya untuk nampang di Pidatonya Donald Trump (Calon Presiden Amerika Serikat), dan berita terbaru mengenai Token Prabayar PLN yang ada potongan siluman, dan berbagai permasalahan pelik, yang kita alami saat ini. 

Dan banyak dari kita yang selalu berpikir bahwa bahagianya seandainya bisa menjadi Warga Negara Maju seperti Eropa, Jepang, bahkan yang terdekat kita menggagumi seandainya menjadi warga Singapura ataupun Malaysia, dengan pelbagai kemajuan teknologi, kualitas taraf hidup, kesehatan, pendidikan, kerapihan, keindahan, kedisiplinan dsb. Yang membuat seolah-olah Negara itu nyaman untuk kita tinggali.

Seorang Daniel Mananta, salah satu Presenter Kenamaan di Republik ini, melakukan Campaign bahwa betapa cintanya ia akan Indonesia ini. Lulusan Universitas Edith Cowan Perth, Australia ini berkreasi dengan membuat pernak - pernik Wearable, seperti Kaos, Gelang, dsb yang tertuliskan "Damn, I Love Indonesia". 



Agustinus Wibowo, seorang Traveler Writer yang saya kagumi, Di salah satu Bukunya yang berjudul "Garis Batas", yang menceritakan secara mendalam pengalaman batin yang langsung dialami beliau ketika ia berada di Negara-negara Asia Tengah yang berakhiran Tan, Afghanistn, Tajikistan, Kirgizstan, Turkmenistan dan stan-stan lainnya, yang merupakan bekas wilayah kekuasaan Digdaya Uni Soviet yang pada masa jayanya menguasai wilayah 15% luas daratan di Bumi ini. Wooww.. Gede Banget. Seiring Kekuasaan Komunis hancur, negara stan-stan tersebut mengalami pergejolakan, perang saudara, kematian, kelaparan, hingga menjadi negara yang miskin.

Pada saat membaca buku ini, khazanah dalam berpikir saya lebih terbuka, ternyata terlepas dari kemelut yang dihadapi Bangsa yang kita cintai ini, Bangsa kita memiliki kekayaan yang luar biasa, sebagai Negara Zamrud Katulistiwa kita diberikan Anugrah yang luar biasa mulai dari Kekayaan alam, lautan, Sumber Daya Alam, Negara Tropis yang subur, dan di dukung dengan jumlah pulau hingga 13 ribu pulau yang terbentang dari Sabang hingga Marauke, Jumlah penduduk yang besar, keanekaragaman budaya, suku, agama, bahasa, kuliner yang diakui dunia, namun Bangsa ini tetap dalam satu kesatuan Bhinekka Tunggal Ika. Amazing, Thanks God I am Indonesian.

Ada sebuah pepatah Bijak di Afganistan, negara yang babak belur dan hancur lebur karena perang yang berkepanjangan, "Jangan menyumpahi gelap, tapi segera nyalakan lilin". Negara yang listrik pun menjadi sesuatu yang menjadi impian untuk dinikmati, menjadi gambaran bagaimana dengan segala keterbatasannya mereka tetap survive untuk hidup. 

Satu cerita di Buku Garis Batas ini, ketika penulis berada di Negara Tajikistan. Membuat kita bersyukur berada di Negeri Indonesia yang kita cintai ini. Disini diceritakan bahwa untuk memasuki negara tersebut, Ia harus melewati rangkaian birokrasi yang ruwet, korup dan bahkan untuk mendapatkan Cap Visa saja harus mengeluarkan Uang lebih dari 250 USD. Dengan tambahan biaya lain-lain dalam bentuk mata uang Somoni. 



Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan dan Negara Stan-Stan lainnya, bagi kita orang Indonesia, Asia Tengah begitu jauh, begitu misterius, terpencil, dan tersembunyi. Dan tak banyak yang kita dengar tentang daerah itu, kecuali gadisnya yang cantik-cantik, dan sebagiannya menghiasi dunia malam di Jakarta.



Di Tajikistan sendiri, merupakan negara terkecil dan termiskin di Asia Tengah. Menurut data Pemerintahanannya, penghasilan penduduk rata-rata perbulan sebesar 20 USD. Padahal harga seliter bensin sekitar 1 USD. Wow jauh berbeda jika dibandingkan kita di Indonesia. Dengan dikelilingi Pegunungan, tanah-tanah yang tandus, alam yang tidak bersahabat seperti Indonesia, mereka terus bertahan, dan banyak cerita yang bisa di ambil dari kisah ini. Luar biasa.

Terlepas dari itu semua, kita patut bersyukur bisa hidup di Negara ini, dan kita berdoa semoga segala musibah dan permasalahan yang ada di Republik ini bisa teratasi, dan kita bisa terus menjadi Negara yang berbudaya, bermartabat, dikagumi dan dihormati oleh Negara-Negara lain di dunia ini.

Selamat Malam dan Selamat Beristirahat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

hello guys