Sabtu, 05 September 2015

Book Review - Tasbih Cinta di Langit Moskow karya Indah El Hafidz.

Bengkulu,
05 September 2015.


Selama 4 hari ini, saya menyempatkan waktu untuk membaca sebuah novel yang berjudul Tasbih Cinta di Langit Moskow karya Indah El Hafidz. Nama asli penulis buku ini adalah Indah Hartini, kelahiran Ngawi, 05 Oktober 1990. Selain sebagai penulis yang telah menerbitkan tujuh buah buku, beliau adalah salah satu pengajar di MI PSM Paron, Ngawi dan Guru Taman kanak-kanak di RA PSM 2 Paron.

Sebagai penulis muda berbakat, saya akui beliau memiliki talenta yang luar biasa untuk menulis. Sehingga beliau dengan baik bercerita, kata demi kata pada novel yang berjumlah 272 halaman ini. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Noura Books (PT. Mizan Publika) yang cetakan pertamanya di cetak bulan Maret 2014.

Buku ini memusatkan cerita pada dua tokoh utama yaitu Bonnieta Bengtsson dan Sahira Alfatina. Bonnie dalam cerita ini sebagai seorang mahasiswi yang cantik jelita, dan Sahira Alfatina adalah seorang Dosen Muslimah dengan segudang prestasi, meraih Gelar Doktor di umur 27 tahun.

Di dalam cerita ini, ada alur cerita yang menghubungkan antara pelaku cerita di novel ini, mulai dari Adnan Al Khair sang kakaknya bonnie, Antonio, Joseph, Paman Abbas, Kakek Victor, serta Mama Bonie sendiri.

Ceritanya sendiri seperti telenovela yang memunculkan kisah perpisahan, cinta, kematian, dan perjodohan. Namun dibalik itu semua ada kisah-kisah Islami yang menceritakan mengenai kembalinya Sang Bonnie menjadi pemeluk Islam setelah sebelumnya menganut Agnostik yaitu percaya bahwa Tuhan itu ada namun tidak memeluk agama apapun. Dengan segala alur dan kehidupan yang pelik akhirnya Sang Bonnie kembali menjadi seorang muslimah dan kembali ke pangkuan sang Papa di Alexandria.

Buku ini menurut saya cukup menghibur dengan kisah romantisme, kisah kedamaian batin, ketegangan, hingga akhir yang indah. Dari review di Goodsread, rating buku ini sebesar 3.5. Namun ada beberapa catatan saya terhadap buku ini yang menurut saya perlu diperbaiki, yaitu:

- Penulis lebih baik menempatkan arti dari istilah-istilah bahasa Rusia yang digunakan, diletakkan di Catatan kaki atau Foot Note. Untuk saat ini pembaca harus membolak-balikan halaman belakang buku seandainya ingin mengetahui makna istilah atau kata asing tersebut.

- Pada Saat di akhir cerita, si tokoh utama Bonnieta Bengtsson atau Aisyah dan Kakaknya Adnan Al Khair pada saat terbang ke Alexandria - Mesir, harus turun di King Abdul Aziz Int. Airport yang jaraknya berjalan darat sekitar 1.738 Km. Kenapa tidak langsung terbang melalui Alexandria Int Airport. Sehingga mempersingkat waktu. Logikanya seperti itu.

- Penulis seolah-olah menceritakan alur dan latar berada di Kota Moskow, Rusia dan Alexandria, Mesir. Namun yang saya rasakan bahwa saya tidak merasa seolah-olah berada di tempat itu, karena saya menyadari kekurangan insight penulis tentang seluk-beluk detail Kota Moskow dan Alexandria ini. Sehingga agak sedikit terbatas menceritakan detail dari latar yang ingin diangkat.

Namun terlepas dari kekurangan tersebut, buku ini menarik untuk anda baca yang khususnya menyukai happy ending story.

Selamat membaca, Spasiba Balshoi & Da Svidaniya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

hello guys