Senin, 17 Agustus 2015

Renungan di Hari Kemerdekaan RI ke 70 Tahun. Merdeka !!!..


Bengkulu,
17 Agustus 2015.

Di penghujung pagi ini, suara Adzan shubuh memanggil semua Insan yang beriman untuk bersujud menunaikan Ibadah kepada Sang Khalik. Ayam jantan sibuk mengepak-ngepakan sayap dan berkokok menyambut datangnya sang fajar, bersahut-sahutan dengan ayam jantan kampung sebelah.

Hari ini tepat, 17 Agustus 2015, Bangsa kita merayakan hari jadi Bangsa Indonesia meraih kemerdekaan yang ke 70 Tahun. Hampir di setiap rumah, dengan suka cita memasang Bendera Merah Putih sebagai simbol perayaan hari kemerdekaan.

Petugas Panitia dari hampir setiap kampung, sibuk mempersiapkan perlombaan khas 17 Agustusan di tanah lapang yang akan diikuti oleh anak-anak kecil hingga dewasa sebagai luapan kegembiraan hari ini.

Selama 70 tahun kemerdekaan Republik ini pula, Bangsa kita masih terus dilanda berbagai rintangan yang menghadang, mulai dari kemelut permasalahan politik, kondisi mikro dan makro ekonomi yang tidak stabil, Kondisi nilai Tukar Rupiah yang terus melemah, harga daging sapi meroket, KKN menjadi mekanan sehari-hari bangsa ini, hutang luar negeri yang semakin besar, Televisi menyiarkan acara gosip selebritis yang tidak mendidik, sinetron yang menjanjikan bayangan semu surgawi.

Selama 3 hari long weekend ini, saya menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk menyelesaikan membaca buku Titik Nol - Makna Sebuah Perjalanan Karya Agustinus Wibowo, dan saya tertarik untuk mengutip tulisan beliau di halaman 414, yaitu:



"Selama ini, aku memang melintasi negeri-negeri yang relatif lebih miskin dan menderita daripada kehidupanku di Indonesia. Tentu, di satu sisi ini membawa perubahan pada caraku memandang keindonesiaanku. Indonesia memang bukanlah negeri yang sempurna, namun perjalanan membuat aku semakin menghargai tanah airku sendiri, bangsa dan identitasku, masa lalu dan hari depanku. Juga hal-hal yang tak pernah kusyukuri sebelumnya, seperti sinar mentari tropis atau langit biru, air yang melimpah dan pantai yang membuai, kebebasan berpikir dan demokrasi. Namun, inti perjalanan bukanlah melihat penderitaan negera lain, untuk mensyukuri keberuntungan diri".

Menarik sekali tulisan dari makna mendalam dari puluhan negara yang telah dikunjungi oleh seorang Agustinus Wibowo dengan melihat dari Point of View yang berbeda dan cara perjalanan yang berbeda pula.


Sebagai negara tropis yang kaya akan kekayaan alam kita sepatutnya selalu bersyukur bisa hidup di negeri ini. Ibarat salah satu bait di Lagu Band Kebanggaan Tanah Air, Koes Plus, bahwa kayu dan batu bisa jadi Tanaman. Luar biasa kekayaan alam Bangsa ini. Sehingga dulu Berbagai negara berlomba-lomba untuk mengeruk kekayaan bangsa ini, hingga kita di jajah 350 tahun oleh Belanda dan 3,5 tahun oleh Jepang. 

Hingga saat ini, banyak negara lain yang iri melihat kekayaan Bangsa ini, disatu sisi negara lain hidup kekurangan air, gersang dan tandus, disini di Indonesia kita dengan gampang menanam padi, mendapatkan sayur-sayuran dan dengan rahmat Tanahnya yang subur. 

Mengapa kita tidak mampu menggunakan kecerdasan yang kita miliki untuk mengolah, menghasilkan dan memberikan manfaat bagi orang lain di sekitar kita. Bukan hanya mengharapkan uluran dari pemerintah, dan terus apatis dan menyalahkan pemerintah karena berpikir seolah-olah pemerintah saat ini tidak becus mengurus negeri. Tidak, kita lah yang mulai, dari diri sendiri untuk orang lain dan Bangsa yang kita cintai ini.

Demokrasi yang bertanggung jawab artinya, siapapun pemimpin kita saat ini, itulah hasil dari manifestasi demokrasi, bahwa sang pemimpin yang terpilih langsung oleh rakyat. Terlepas dari berbagai polemik yang menghadapi bangsa ini, ayo dengan segenap jiwa raga kita bangun dan bantu bangsa ini untuk menjadi negara yang maju. Bukan hanya mengkritisi secara terus menerus karena ketidakpuasan pemerintahan saat ini. 

Siapapun yang menjadi pemimpin terpilih negeri ini adalah anak terbaik bangsa, dan sebagai Bangsa yang baik, bagaimana kita bisa mendukung Pemerintahan saat ini untuk mencapai target dan impian Bangsa, mencapai keadilan sosial dan memakmurkan masyarakat dari Sabang hingga ke pelosok Papua.

Sebagai Negara yang berkembang, tentunya banyak sekali permasalahan yang dihadapi. Bahkan Negara Jepang, yang sudah masuk dalam kategori Negara Maju, harus mengalami Zero Pertumbuhan Ekonomi bahkan minus dari hampir lebih dari dua dekade hingga di penghujung 2010. 

Atau Cina saat ini, sebagai negara dengan pertumbuhan Ekonomi luar biasa di Dunia harus melakukan Devaluasi Nilai Yuan hampir 2% untuk mengantisipasi jatuhnya perekonomiannya yang disebabkan oleh jumlah hutang Negara dan Perusahaannya saat ini yang mencapai 26 trilliun Dollar, tertinggi di Dunia. Wow Amazing...

Di dalam tulisan ini saya hanya sedikit berbagi dari perspektif berpikir saya yang masih belajar, tidak memiliki tendensi apapun, karena saya selalu berpikir bahwa sebagai Umat Muslim kita harus menghargai dan selalu mendukung Khalifah yang memimpin Negeri ini, siapapun itu orangnya.

Harapan saya hanya satu, kita sebagai bangsa Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika harus terus bersatu untuk membangun Bangsa ini. Merdeka disini bukan berarti kita harus berjuang menumpahkan darah dan nyawa demi kemerdekaan, namun bagaimana kita bisa memberikan yang terbaik bagi Bangsa ini dengan segala profesi yang kita miliki.

Semoga Bangsa ini terus maju, menjadi Bangsa yang bermartabat, memegang keluhuran budi pekerti dan menjaga selalu persatuan dan kesatuan Bangsa.

Jayalah Indonesia ku, Dirgahayu ke 70 Tahun Republik Indonesia, Merdeka !!!...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

hello guys