Kamis, 15 Januari 2009

Keruwetan dan Kemacetan Jakarta


Medan,
January 15, 2009

Ke Jakarta, aku kan kembali,......
Seperti lagu lawas yang sering kita dengar dari Group Band Koes Bersaudara, Jakarta merupakan promising land bagi fresh graduate untuk mencari pekerjaan, sehingga berbondong-bondonglah mereka untuk mengadu nasib ke Jakarta dengan segala hiruk pikuknya.


Setelah menamatkan studi S1 saya di Universitas Andalas Padang, seminggu setelah wisuda belum lagi ngurus-ngurus Ijazah saya di panggil oleh HP Indonesia ke Jakarta, dengan akomodasi di tanggung oleh HP Indonesia, sangat senang sekali waktu itu karena saya bisa join dengan perusahaan Multinational terbaik di dunia untuk technology industry (Fortune 500). Karir pertama saya di HP Indonesia dengan mengikuti Program HP Fresh Graduate Development Program (FGDP), selama 6 bulan di kantor pusat, Mega Kuningan Jakarta. Selama 6 bulan di Jakarta saya join dengan devisi Total Customer Experience and Quality yang fungsinya adalah bagaimana meningkatkan tingkat SLA (Service Level Agreement) dari HP Indonesia ke customer HP, sehingga custumer tetap percaya dengan HP dan tingkat CSI (Customer Satisfaction Index) dan CLI (Customer Loyalty Index) HP Indonesia meningkat.

Setelah 6 bulan saya menjadi permanent employee, dan join di PSG (Personal System Group) Business Unit sebagai Area Manager Lampung Territory dan sekarang saya responsible untuk North Sumatra dan Aceh di IPG (Imaging Printing Group) Business Unit.



Selama saya berkarir di HP Indonesia, saya prefer untuk di assign ke Daerah, karena ada beberapa pertimbangan kenapa saya tidak nyaman untuk tinggal (living) di Jakarta:
1. Biaya hidup di Jakarta yang tinggi di bandingkan dengan biaya hidup didaerah,
2. Kemacetan dan keruwetan Jakarta yang membuat saya tidak nyaman tinggal dengan Kota Metropolitan Jakarta.
3. Sifat Acuh tak Acuh penduduk Jakarta.

Entah kenapa, tetapi mungkin saya karena telah biasa hidup di daerah, my childhood di Jambi, dan kuliah di Padang, membuat saya nyaman dengan kehidupan daerah yang lebih ramah penduduknya, biaya hidup yang murah, tenang, dan tentunya tidak semrawut seperti di Jakarta.

Terkadang, kita harus memilih yang terbaik bagi kita, kenyamanan, ketenangan, dan dekat dengan keluarga itu tidak bisa di bayar berapapun oleh materi, ketenangan itu sendiri bisa kita dapatkan ketika kita bisa bersyukur dan beryukur atas Nikmat-Nya, oleh sebab itu, ketika kita bisa nyaman dengan apa yang kita dapatkan, berarti kita telah belajar untuk bersyukur kepada-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

hello guys